Kamis, 13 Januari 2011

JURAGAN KUDA PACU DARI KEBUMEN

         Anwar Efendi, juragan kuda asal kebumen,  Jawa Tengah, yang sukses menjadi peternak kuda pacu silang import dengan lokal indonesia. Sekarang ia mempunyai 16 ekor kuda pacu.
         Berawal dari hobi dan kecintaan pada dunia berkuda lelaki berumur 62 tahun tersebut, sukses menjadi peternak kuda pacuan, Anwar bisa mencukupi dan menyekolahkan kelima anaknya hingga Sarjana. Ia sudah melakoninya selama 8 tahun. Banyaknya relasi di olahraga berkuda, pemanfaatan kuda lokal dan perkawinan persilangan merupakan alasannya terjun di bisnis ini.
         Dengan dibantu 5 karyawan, usahanya terus berkembang, bahkan ia mampu mengimport kuda pacu pejantan dari luar negeri seperti Amerika, Inggris, Australia dan Saudi Arabia. Cara beternak silang kuda dengan cara tradisional, tidaklah sulit. Proses perkawinannya, kuda betina bila ada tanda-tanda birahi atau nafsu, di mandikan hingga bersih untuk menarik nafsu seks kuda pejantan dan di bawah kekandang terbuka.
         Kuda betina diajak jalan – jalan untuk melemaskan otot - ototnya . Hal ini, untuk menghindari kram kaki terutama di posisi depan. Sementara kuda pejantan diikat dengan tali yang cukup panjang. karena, kuda pejantan biasanya kalau kawin galak dan tidak mau terganggu. Usai diikat kuda penjantan, di mandikan terutama di alat vitalitas untuk menghindari bakteri dan menjaga sperma lebih steril sehingga menghasilkan kuda pacu yang cukup bagus. Kuda pejantan dilepas di kandang bersama kuda betina sehingga terjadi perkawinan yang cukup singkat. Hasil perkawinan, kuda betina membuahkan janin atau hamil dan di masukan ke dalam kandang. Selang 11 bulan hingga satu tahun, kuda betina melahirkan seekor anak kuda. Setelah mencapai umur 3 s/d 5 bulan, anak kuda siap dijual.
         Sekarang Anwar sudah bisa memetik buahnya, kuda – kuda dengan harga selangit memenuhi kandangnya. Harga kuda – Kuda Anwar juga lumayan mahal karena sudah beberapa kali menang dalam kejuaraan.
          Agung Ari
153070112 / Straight news

ABU MERAPI GANGGU LATIHAN KUDA PACU


         
         Putra Antik (seekor kuda pacu) Cuma bersantai di kandangnya. Kamis (25/11) tak satupun kuda turun ke pacuan untuk berlatih. Sisa abu di pacuan kuda Bantul Yogyakarta menyebabkan para pemilik kuda pacu menghentikan latihan untuk sementara.
         Erupsi gunung merapi di Yogyakarta jadi gangguan untuk kuda pacu. Hujan abu yang melanda sekitaran Yogyakarta, membuat para kuda mangkir latihan. Walaupun hujan abu sudah mereda, tetapi sisa – sisa abu masih berterbangan. Si kuda pacu juga enggan keluar kandang. Seperti halnya manusia yang bisa terkena infeksi saluran pernafasan, kuda pacu juga bisa terkena penyakit yang sama.
         Mohadi salah seorang pemilik kuda terpaksa meniadakan latihan untuk kuda pacunya. “Di arena pacuan masih ada sisa abu yang berterbangan, bisa berakibat fatal jika kuda dipaksakan untuk latihan” terang Mohadi. Ia biasanya melatih kudanya pada hari rabu dan minggu pagi. Wajib hukumnya untuk si kuda mengikuti latihan agar kebugaran fisiknya tetap terjaga sekaligus menambah porsi berlarinya.
         Sementara Susilo, seorang pelatih kuda pacu juga meliburkan para kudanya untuk berlatih. Ia menuturkan bahwa seekor kuda pacu memiliki tenggang pernafasan yang panjang saat berlari, itupun paling sedikit kuda harus berlari 600 M. Butiran Abu bisa langsung masuk paru – paru jika kuda berlari dalam kondisi seperti ini.
         Selain latihan yang terganggu, kejurnas yang akan diadakan di Bantul juga batal diselenggarakan. Djoko Suwito, anggota PORDASI Jogja menambahkan “ Kejurnas Bupati CUP Bantul 2010 diundur sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Agung Ari
153070112 / Straight News

Minggu, 09 Januari 2011

Adu gengsi bagi para Pejabat





Pacuan kuda di Indonesia mulai di kenal pada tahun 70an, kini di Indonesia mulai banyak arena pacuan kuda. Pacuan kuda termasuk olahraga mahal, karena harga kuda pacu mencapai puluhan juta rupiah dan perawatan kuda pun cukup mahal. Karena harga kuda pacu mahal, bukan sembarang orang yang bisa memeliharannya pastinya hanya orang-orang berduit saja yang bisa memiliki hewan tangguh ini. Tak salah jika pacuan kuda di lirik para bos-bos pengusaha hingga para pejabat-pejabat daerah maupun nasional. Selain itu, kuda juga mempunyai simbol kekuatan dan keperkasaan tak salah jika para pejebat bangga jika memiliki kuda pacu. Bukan rahasia lagi jika para pejabat mempunyai kuda pacu bahkan lebih dari satu dan kebanyakan kuda import dari Australia / Selandia Baru. 

Jangan heran jika anda datang ke Lomba Pacuan Kuda, kuda-kuda yang mengikuti perlombaan itu adalah milik para pejabat pejabat daerah. Misalnya di Bupati Cup Bantul 2010 tahun lalu, sebagian besar pesertanya adalah para pejabat daerah di Jawa, Sumatera dan Sulawesi, seperti Bupati Sragen, Bupati Padangpariaman, Walikota Manado dll. Salah satunya adalah Walikota Manado, Jimmy Rimba Rogi menurunkan beberapa kudanya di ajang Bupati Cup Bantul ini. Bahkan di Manado dia mempunyai peternakan kuda, biasa di bayangkan berapa rupiah uang yang di keluarkan untuk perawatan kuda-kudanya. Mungkin inilah ajang bagi para pejabat untuk mempertontonkan kekayaannya dan beradu gengsi dengan pejabat lain.

Tapi secara kasat mata sebetulnya dalam arena pacuan kuda inilah terkesan para pejabat memper-tontonkan kemewahan. Bisa dibayangkan banyaknya kuda pacu yang dimiliki pejabat, yang sudah tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Di sini menunjukkan bahwa kesejahteraan hanya menjadi milik pejabat. Sementara rakyat hanya bisa jadi penonton ke-mewahan para pejabat tersebut. Padahal keberhasilan seorang pejabat tidak dilihat dari keka-yaan dan kemewahan yang ia miliki. Tapi seberapa jauh ia bisa membuat rakyat yang dipimpin-nya menjadi sejahtera. Selain itu, akan timbul kesan para pejabat memang hebat memelihara ternaknya, tapi bagaimana dengan manusia-manusia yang dipimpinnya? 

Hadid Hajarachman
153070113 / Feature

Kuda Liar Lebih Kebal Penyakit, Daripada Kuda Domestik



Di dunia perkudaan, kuda liar di kenal lebih kebal dan kuat di banding kuda domestik ( kuda pacu,kuda andong dll ). Kuda domestik lebih rentan terkena penyakit di banding dengan kuda liar padahal kuda domestik mendapatkan perawatan khusus dari majikannya. kuda liar tidak ada penyakit kuku seperti yang sering dialami oleh kuda domestik, seperti kuku yang retak-retak, sol lembut dan segitiga lembek. Selain penyakit kuku, penyakit yang sering dialami kuda domestik seperti kolik, diare, pilek, artritis di dunia kuda liar sama sekali tidak pernah terjadi.
Bagaimana bisa, kuda yang setiap hari kita rawat dengan penuh kasih sayang, serta diberikan kandang yang mewah justru sering terkena penyakit.padahal kuda liar sama sekali tidak pernah dirawat, tetapi justru memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit yang lebih baik daripada kuda domestik.

Hal ini adalah dampak dari kebutuhan dasar kuda yang tidak dipenuhi oleh si pemilik kuda. Kebutuhan dasar tersebut meliputi :
  • Kuda biasa hidup berkelompok 
  •  Makan rumput siang sampai dengan malam
  •  Bergerak sepanjang waktu secara leluasa

Ketiga hal tersebut yang tidak dilakukan oleh para peternak atau pemilik kuda pada saat ini. Mereka sangat memanjakan kuda-kudanya mulai dari pemberian pakan hinggan perawatan. Ternyata hal inilah yang membuat si kuda menjadi “rapuh” kekebalan tubuhnya.

Hadid Hajarachman ( 153070113 )
Opini

Kompetisi Kuda Lokal, Ajang Unjuk Gigi “Kaum Bawah”


Jika mengenang masa kecil kita dahulu, sering kali kita diajak orang tua kita untuk menikmati hiburan yang sangat menarik berupa pacuan kuda. Pacuan kuda di daerah-daerah pada waktu itu masih banyak di dominasi oleh kuda lokal, karena pada saat itu belum banyak orang yang memiliki kuda keturunan thoroughbreed (kuda G).  Kuda thoroughbreed merupakan salah satu jenis ras kuda pacuan yang banyak berkembang di negara Australi dan Selandia Baru.
Pagelaran lomba-lomba pun biasanya masih memanfaatkan tanah-tanah lapang yang bukan merupakan arena pacuan kuda permanen. Peraturan-peraturan yang diberlakukan juga masih sangat sederhana dan hadiah yang diberikan bagi pemenang juga nilainya relatif kecil. Para penyelenggara pada waktu itu lebih memprioritaskan banyaknya peserta.
Dengan metode seperti itu, akhirnya peserta yang mengikuti lomba pacuan juga sangat bervariasi, dari peternak kuda profesional hingga kuda andong akanbertarung dalam ajang yang sama.
Namun seiring perkembangan zaman, dengan semakin banyaknya populasi kuda keturunan thorougbreed, penyelenggaraan pacuan kuda mulai beralih kiblat dan regulasi peraturan juga diperketat sesuai dengan standar yang ada.
Saat ini regulasi di negara kita memang sudah jauh lebih baik. Namun, hal ini ternyata memberikan dampak tersendiri bagi bagi pacuan kuda lokal atau tradisional. Gengsi “kuda G” memang lebih tinggi, akibatnya harga kuda dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan.
Kondisi yang demikian ini akhirnya berpengaruh terhadap mereka yang berkantong tipis karena tidak mampu mencapai standar yang ditetapkan.
Fakta yang terjadi saat ini adalah kompetisi kuda lokal perlahan mulai menghilang. Memang event pacuan kuda yang bersifat regional dan nasional selalu menuai sukses dengan penonton yang membludak, membuktikan bahwa pacuan kuda masih menjadi “magnet hiburan.
 Namun rasanya ada yang tertinggal dalam hal ini. Rekan-rekan kita yang masih setia dengan kuda lokal hanya datang sebagai penonton. Padahal pacuan kuda lokal merupakan bagian dari kebudayaan yang merupakan identitas bangsa.
Antusiasme mereka tidak boleh diabaikan, kesetiaan mereka terhadap hobi ini jangan dipertanyakan karena mereka adalah salah satu motor penggerak bagi kompetisi pacuan kuda yang ada saat ini.

                                                                 Arya Dwi Prasetya(153070126) feature
                           

Minggu, 17 Oktober 2010

Kuda Lokal tak kalah bagus dengan Kuda Import


Di samping lebih murah harganya kuda lokal masih jadi favorit bagi para pemilik kuda maupun joky kuda di Indonesia. Selain itu kualitas kuda lokal lebih garang di arena pacuan kuda. Kuda lokal memiliki kelebihan dibagian leher dan kaki,leher kuda lokal lebih besar daripada kuda import. Kaki kuda lokal lebih kuat dibandingkan kuda import, kuda import memiliki kaki yang lebih panjang dan cenderung lebih lunak sehingga gampang tergerus apabila berlari di arena yang keras,  sedangkan kuda lokal walaupun kakinya tidak sepanjang kuda import tapi memiliki kuku yang kuat dank eras karena sudah terbiasa dengan geografis Indonesia dan mudah beradaptasi dengan arena pacuan. Karena rata-rata arena pacuan kuda di Indonesia adalah tanah yang keras dan penuh dengan batu-batu kecil sedangkan arena pacuan kuda di luar negri misalnya Australia / Amerika, tanahnya lebih gempur bahkan ada arena rumput.

Kuda lokal di Indonesia biasanya berasa dari bumi timur Indonesia, seperti Sumbawa, Kupang, Minahasa. Karena iklim panas di Indonesia timur membuat kuda-kuda disana lebih kuat dan besar. Berbeda dengan Kuda Import, kuda import biasanya di datangkan dari Australia dan New Zeland. Iklim disana lebih sejuk ketimbang Indonesia,jadi kuda import dari Australi susah untuk beradaptasi dengan iklim di Indoneisa dan arena pacuan kudanya. Itu merupakan salah satu faktor yang menjadi alasan bagi pecinta kuda di Indonesia lebih memilih kuda lokal dari Sumbawa dan sekitarnya.

Joki Kuda Pacu


Pacuan kuda memang bukanlah olahraga populer yang ada di Indonesia. Olahraga ini menggabungkan antara dua kemampuan yang berbeda, yaitu kuda dan manusia. Sebutan bagi orang yang menunggangi kuda adalah Joki.
Joki mempunyai peran yang besar dalam mengendalikan kuda saat berada di arena pacuan. Namun tidak hanya mengendalikan kuda saja, sang joki juga harus dapat mengendalikan emosi dirinya sendiri. Apabila kuda dibawakan dengan emosional, maka hasilnya tak akan maksimal.
Pada umumnya joki bertubuh pendek, tetapi tidak ada pembatasan pada tinggi badan. Hanya saja berat badan joki harus diatur. Berat badan ideal joki antara 50-55kg, lebih dari itu tidak diperbolehkan. Hal ini disebabkan karena setiap kelebihan 1kg berat badan joki berpengaruh terhadap beban kuda saat ditunggangi. Sebagai contoh, apabila terdapat dua ekor kuda yang memiliki kemampuan fisik yang sama-sama bagus saat berlari, namun joki yang menungganginya memiliki berat badan yang berbeda. Misal joki A mempunyai berat badan 50kg dan joki B 52kg. Pada saat keduanya bertarung di arena pacuan joki A pasti akan lebih unggul dibanding joki B, ini disebabkan karena perhitungan setiap kelebihan 1kg dari berat badan joki sama dengan jarak satu panjang kuda. Sehingga joki A unggul dengan jarak dua panjang kuda daripada joki B.
Saat sedang tidak ada event pacuan, para joki dalam kesehariannya mempunyai tugas untuk melatih kuda. Latihan ini dimaksudkan untuk menjaga kondisi fisik kuda agar tetap fit. Dalam melatih kuda, dibutuhkan ketelatenan seorang joki.
                                                                                  Arya Dwi Prasetya (153070126) Opini