Minggu, 17 Oktober 2010

Kuda Lokal tak kalah bagus dengan Kuda Import


Di samping lebih murah harganya kuda lokal masih jadi favorit bagi para pemilik kuda maupun joky kuda di Indonesia. Selain itu kualitas kuda lokal lebih garang di arena pacuan kuda. Kuda lokal memiliki kelebihan dibagian leher dan kaki,leher kuda lokal lebih besar daripada kuda import. Kaki kuda lokal lebih kuat dibandingkan kuda import, kuda import memiliki kaki yang lebih panjang dan cenderung lebih lunak sehingga gampang tergerus apabila berlari di arena yang keras,  sedangkan kuda lokal walaupun kakinya tidak sepanjang kuda import tapi memiliki kuku yang kuat dank eras karena sudah terbiasa dengan geografis Indonesia dan mudah beradaptasi dengan arena pacuan. Karena rata-rata arena pacuan kuda di Indonesia adalah tanah yang keras dan penuh dengan batu-batu kecil sedangkan arena pacuan kuda di luar negri misalnya Australia / Amerika, tanahnya lebih gempur bahkan ada arena rumput.

Kuda lokal di Indonesia biasanya berasa dari bumi timur Indonesia, seperti Sumbawa, Kupang, Minahasa. Karena iklim panas di Indonesia timur membuat kuda-kuda disana lebih kuat dan besar. Berbeda dengan Kuda Import, kuda import biasanya di datangkan dari Australia dan New Zeland. Iklim disana lebih sejuk ketimbang Indonesia,jadi kuda import dari Australi susah untuk beradaptasi dengan iklim di Indoneisa dan arena pacuan kudanya. Itu merupakan salah satu faktor yang menjadi alasan bagi pecinta kuda di Indonesia lebih memilih kuda lokal dari Sumbawa dan sekitarnya.

Joki Kuda Pacu


Pacuan kuda memang bukanlah olahraga populer yang ada di Indonesia. Olahraga ini menggabungkan antara dua kemampuan yang berbeda, yaitu kuda dan manusia. Sebutan bagi orang yang menunggangi kuda adalah Joki.
Joki mempunyai peran yang besar dalam mengendalikan kuda saat berada di arena pacuan. Namun tidak hanya mengendalikan kuda saja, sang joki juga harus dapat mengendalikan emosi dirinya sendiri. Apabila kuda dibawakan dengan emosional, maka hasilnya tak akan maksimal.
Pada umumnya joki bertubuh pendek, tetapi tidak ada pembatasan pada tinggi badan. Hanya saja berat badan joki harus diatur. Berat badan ideal joki antara 50-55kg, lebih dari itu tidak diperbolehkan. Hal ini disebabkan karena setiap kelebihan 1kg berat badan joki berpengaruh terhadap beban kuda saat ditunggangi. Sebagai contoh, apabila terdapat dua ekor kuda yang memiliki kemampuan fisik yang sama-sama bagus saat berlari, namun joki yang menungganginya memiliki berat badan yang berbeda. Misal joki A mempunyai berat badan 50kg dan joki B 52kg. Pada saat keduanya bertarung di arena pacuan joki A pasti akan lebih unggul dibanding joki B, ini disebabkan karena perhitungan setiap kelebihan 1kg dari berat badan joki sama dengan jarak satu panjang kuda. Sehingga joki A unggul dengan jarak dua panjang kuda daripada joki B.
Saat sedang tidak ada event pacuan, para joki dalam kesehariannya mempunyai tugas untuk melatih kuda. Latihan ini dimaksudkan untuk menjaga kondisi fisik kuda agar tetap fit. Dalam melatih kuda, dibutuhkan ketelatenan seorang joki.
                                                                                  Arya Dwi Prasetya (153070126) Opini

Sabtu, 16 Oktober 2010


Menjemput Kemenangan atau Dijemput Tukang Jagal
          Dengan memenangkan kejuaraan pacuan kuda, harga jual se’ekor  kuda pacu bisa melambung tinggi. Sebaliknya hanya karena patah kaki saat berlari nyawa kuda pacu bisa berakhir di tukang jagal.
          Memang menyenangkan bila melihat sang kuda berlari cepat di urutan terdepan. Joki berpengalaman dan pelatih berjam terbang tinggi jadi andalan para pemilik kuda – kuda juara. Perawatannya juga serba istimewa; pakan yang bergizi, suplemen, dan latihan rutin jadi fasilitas sang kuda pacu. Semua itu dilakukan agar Kuda bisa berprestasi dan memiliki nilai jual yang tinggi.
          Tetapi tentu ada kehawatiran,,,,,tidak selamanya semua berjalan lancar. Kuda pacu berlari setidaknya minimal 600m dengan kecepatan tinggi, kuda bisa saja terjungkal dan mengalami patah kaki. Jika sudah terjadi, kuda sudah tak bisa berlari dan tidak bisa disembuhkan kembali. Untuk kembali dipelihara mungkin bisa, tetapi kuda hanya bisa tergletak tak berdaya, hidup  segan matipun tak mau. Kuda pacu yang disegani karena kecepatannya berlari harus dijemput si tukang jagal.  
          Sebuah dilema besar para pemilik kuda pacu. Melakoni kejuaraan pacuan kuda memang merupakan suatu hal yang prestisius bagi pemilik dan kuda pacunya. Dimana para kuda-kuda terlatih beradu kecepatan untuk jadi yang nomor satu. Sang pemilik akan memiliki pamor jika kuda miliknya bisa bertengger di tangga juara. Tetapi bisa saja kuda mengalami patah kaki saat berlomba dan malah dibeli oleh tukang jagal. Harga kuda yang berkisar puluhan bahkan ratusan juta rupiah, bisa turun harga menjadi 5 juta rupiah jika ia mengalami patah kaki.
          Mengapa harus tukang jagal……para pemiliknya kebanyakan tak tega melihat si kuda yang tak bisa berbuat apa – apa, sehingga dengan penuh kerelaan dan terpaksa, sang pemilik menyerahkannya ke tukang jagal. Ketimbang sang kuda merasakan sakit dan mati perlahan. Memang tak semudah dijelaskan dengan sebuah kalimat tetapi itulah adanya.
           Kuda pacu memang tak sepopuler hewan peliharaan lain. Harga selangit, ukurannya yang besar dan membutuhkan kandang cukup besar pula. Menjadikan anggapan yang satiris bagi orang - orang. Tetapi tidak bagi mereka pecinta kuda pacu, selain sebagai hobi kuda pacu bisa dijadikan sebagai bisnis. Kuda pacu juga memberikan nilai filosofi tersendiri bagi pemiliknya.
          Dalam dunia pacuan kuda prestasi sang kuda tentu jadi impian bagi banyak pemiliknya. Sudah sepatutnya kuda – kuda juara layak memperoleh penghargaan, perjuangan sang kuda tak bisa dipandang sebelah mata. Kita bisa belajar, bahwa kuda pacu akan terus berlari walaupun ia harus berhadapan dengan resiko yang  tinggi. Semangat yang seolah – olah tiada henti walaupun ia bisa saja mati.

Senin, 11 Oktober 2010

Bupati Bantul Cup II


Bantul (10/10) - Pengcab Pordasi Bantul akan kembali menggelar lomba pacuan kuda tingkat nasional yang akan diselenggarakan pada bulan november mendatang di lapangan pacuan kuda sultan agung, Bantul. Event bertajuk Bupati Bantul Cup II yang biasa diadakan satu tahun sekali ini, akan mempertandingkan 12 kelas. Kelas -kelas tersebut dibagi berdasar umur dan tinggi kuda.
Sutarto, salah seorang pengurus Pordasi Bantul membenarkan bahwa Bantul akan kembali menggelar lomba pacuan kuda. “ Ya hal itu memeng benar. Kini para pengurus-pengurus Pordasi Bantul sedang melakukan persiapan awal guna suksesnya acara tersebut. Kami juga telah menghubungi para pemilik kuda yang ada diluar daerah seperti Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah, untuk turut ambil bagian dalam agenda tahunan ini. Alhamdulillah mereka merespon dengan baik dan akan membawa kuda-kuda terbaik yang mereka miliki,” tutur Sutarto.
                                                      Arya Dwi rasetya (15070126) Straight News